Kepala Sekolah yang Membangun Jembatan Agar Murid dan Guru Tidak Bolos ke Sekolah

Kepala Sekolah yang Membangun Jembatan Agar Murid dan Guru Tidak Bolos ke Sekolah

ichthus school – Minimnya infrastruktur membikin guru dan siswa SD 013 Desa Buluh Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kerap kali telat berangkat sekolah. Kepala Sekolah SD 013 Desa Buluh Perindu Warsiah mengatakan, eksistensi sekolah yang terpisahkan oleh sungai selebar 100 meter dari pemukiman penduduk menjadi kendala bagi siswa dan guru untuk dapat datang ke sekolah pagi hari.

Perahu ialah satu satunya alat transportasi yang mengaitkan Desa Buluh Perindu dengan dunia luar. “Satu satunya jalan menuju sekolah melalui sungai. Perahu hanya satu, jadi bila hujan banyak guru dan siswa memilih tak masuk sekolah,” ujarnya.

Minimnya infrastruktur membikin guru dan siswa SD 013 Desa Buluh Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kerap kali telat berangkat sekolah. Kepala Sekolah SD 013 Desa Buluh Perindu Warsiah mengatakan, eksistensi sekolah yang terpisahkan oleh sungai selebar 100 meter dari pemukiman penduduk menjadi kendala bagi siswa dan guru untuk dapat datang ke sekolah pagi hari.

Perahu ialah satu satunya alat transportasi yang mengaitkan Desa Buluh Perindu dengan dunia luar. “Satu satunya jalan menuju sekolah melalui sungai. Perahu hanya satu, jadi bila hujan banyak guru dan siswa memilih tak masuk sekolah,” ujarnya. Susahnya siswa dan guru menuju sekolah membikin aktivitas belajar mendidik di SD 013 berjalan tak pantas seperti sekolah lain. Jam pembelajaran yang dikasih guru dalam sehari dapat cuma satu jam belajar, malahan beberapa kelas tak ada pembelajaran. “Pertama kali masuk ke sini aku terkejut, siswa masuk jam 08.30 Wita pulang jam 09.30 Wita, dan hal seperti itu berjalan cukup lama,” imbuhnya.

Dampak aktivitas belajar mendidik di SD 013 yang tak terang membikin beberapa besar orang tua di Desa Bulu Perindu memilih menyekolahkan buah hati mereka ke sekolah dasar yang berada di desa lain yang lebih jauh. Walhasil, SD 013 cuma mempunyai siswa sebanyak 50 siswa saja. Untuk merubah keadaan aktivitas belajar mendidik di SD 013 yang kacau balau hal yang demikian, sebagai kepala sekolah yang baru menjabat, Warsiyah cuma terpikir untuk membikin jembatan yang dapat mengaitkan Desa Buluh Perindu dengan sekolah. Meskipun tak tahu bagaimana metode membikin jembatan, melainkan Warsiah getol mengerjakan pendekatan terhadap warga, sesepuh desa, ketua RT, sampai kepala desa supaya di desa mereka ada jembatan yang dapat dilewati buah hati-buah hati untuk menuju ke sekolah.

Warsiah mengaku butuh waktu 3 bulan untuk meyakinkan warga supaya mereka percaya bahwa mereka dapat membikin jembatan seandainya bergotong royong. Di Sungai Kayan, banyak terdapat kayu yang hanyut dibawa arus dari hulu sungai yang dapat dihasilkan bahan jembatan. Meskipun tak ada insinyur yang merancang jembatan, warga alhasil sependapat untuk membikin jembatan secara swadaya. “Mereka sependapat bahwa pengajaran buah hati mereka itu betul-betul penting.

Satu-satunya metode supaya buah hati mereka dapat sekolah ya dengan membangun jembatan, bagaimanapun caranya,” sebut Warsiah. Meskipun bahan baku kayu betul-betul gampang didapat, melainkan Warsiah mengaku masih memerlukan anggaran untuk membeli kebutuhan material lainnya seperti kawat baja, besi paku dan keperluan konsumsi dikala pembanguna jembatan dilakukan. Kembali Warsiah mengerjakan pendekatan terhadap warga dengan metode mulai mengerjakan urunan dari sekolah sehingga warga ikut serta serta mengerjakan urunan. “Kesudahannya terkumpul uang Rp 2,5 juta,” katanya.

Dengan keyakinan bahwa dengan gotong royong segala akan dapat dikerjakan yang di ditularkan Warsiah, warga yang mayoritas ialah nelayan dan petani dan buruh bangunan hal yang demikian mulai membangun jembatan yang dilakukan dikala buah hati-buah hati libur sekolah. Semua warga desa turun bergotong-royong memancang pohon pinang sebagai penyangga jembatan, sementara lantai dan pegangan jembatan dijadikan dari kayu lembasung dan kayu meranti.

Seluruh dilaksanakan sendiri oleh warga sedangkan tidak ada satupun dari mereka yang punya pengalaman membikin jembatan. “Seluruh warga memanggul kayu, mendukung ke sungai, menanam balok di sungai segala dikerjakan secara manual. Para ibunya memasak, segala warga terlibat,” sebut Warsiah. Jembatan dari kayu hal yang demikian selesai dilaksanakan oleh warga selama seminggu, pas beriringan dengan masuknya siswa pasca libur sekolah.

Meskipun simpel dan dijadikan sekadarnya, jembatan hal yang demikian menjadi simbol bahwa mereka juga dapat membikin jembatan yang memutus keterisolasian mereka dengan dunia luar dengan metode mereka sendiri. Semenjak adanya jembatan hal yang demikian, Warsiah menetapkan seandainya tak ada lagi guru ataupun siswa yang telat masuk sekolah, apalagi tidak datang sekolah.   Gotong Royong Warga Desa Bulu Perindu menjadikan jembatan sepanjang 100 meter yang memutus keterisolasian mereka.

Minim infrastruktur, miskin buku  Mempunyai jembatan yang dapat mengaitkan desa dengan sekolah bukan membikin tugas Warsiah memajukan pengajaran di desa peisir hal yang demikian selesai. Keadaan bangunan sekolah yang terbuat dari kayu yang telah mulai rapuh di sana-sini serta minimnya buku pembelajaran dan buku bacaan bagi siswa yang sama sekali tak pernah ada menjadi tantangan selanjutnya. Pun ruang perpustakaan sekolah selama ini cuma difungsikan sebagai gudang, daerah menaruh barang barang milik sekolah yang telah rusak dan tak terpakai.

Semua metode dikerjakan Warsiah supaya sekolah mempunyai buku, bagus paket ataupun buku nonteks. Via Dana Jatah Khusus (DAK), sekolah yang dipimpinnya pertama kali mendapatkan kiriman buku. Kepala sekolah ini juga aktif memberikan pemahaman terhadap sejumlah perusahaan serta instansi yang ada di Kabupaten Bulungan untuk menolong ketersediaan buku bacaan nonteks bagi kelas bawah, yakni kelas 1 sampai kelas 3 di sekolahnya. Bukan cuma kapabel membikin perpustakaan, melainkan Warsiah alhasil juga kapabel membangun sebuah taman bacaan masyarakat yang ditempatkan di pelabuhan desa, daerah warga desa menunggu speedboat untuk menuju ke kota.

“Siswa aku hingga menciumi buku bacaan nonteks yang baru datang waktu itu, sebab selama mereka sekolah mereka belum pernah mengamati ada buku baik untuk mereka,” katanya. Sementara itu, menghadapi keadaan ruang kelas yang telah banyak papan yang lapuk dan plafon sekolah yang berlubang, Warsiah kembali mengajak warga turun lantas memberesi sekolah. Sistem simpel dengan mengecat sekolah yang dikerjakan sekolah membikin warga antusias kembali turun lantas menolong pihak sekolah.

Cara belajar mendidik dulunya kacau balau dan berjalan cukup lama yang alhasil berakibat pada kwalitas pelajaran yang diterima siswa sedikit demi sedikit juga mulai ditata Warsiah. Kali tak mendapatkan pembelajaran membikin hampir 70 persen siswa kelas bawah SD 013 tak dapat membaca, malahan untuk siswa kelas atas juga masih ada yang kesusahan membaca. Dengan meniru program Penemuan untuk Si Sekolah Indonesia (INOVASI) yakni program yang dipusatkan meningkatkan kualitas pelajaran bidang literasi, numerasi, dan inklutif pada tingkatan pengajaran dasar, siswanya dikala ini telah tak ada lagi yang kesusahan untuk membaca dan memahami bacaan.

Program Penemuan untuk Si Sekolah Indonesia (INOVASI) ialah program kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australian yang dipusatkan meningkatkan kualitas pelajaran bidang literasi, numerasi, dan inklutif pada tingkatan pengajaran dasar SD 013 yang dahulu mempunyai predikat kualitas rendah dan tak diminati warga sebab bangunan sekolah yang hampir ambrol, kumuh dan jam belajar yang tak terang sebab guru yang kerap kali tak masuk dengan alasan sungai banjir alhasil mulai tersusun dengan rapi sesudah hampir 2 tahun Warsiah mengerjakan pemberesan.

Kecuali lingkungan sekolah yang tampak bersih rapi dan nyaman, para siswanya juga tampak aktif dalam Gerakan Literasi Sekolah GLS. Membaca telah menjadi kebisaan siswa SD 013. Tahun ajaran 2018 – 2019 jumlah siswa SD 013 juga mulai bertambah banyak. “Tahun ini kami jumlah siswa kami menempuh 70 siswa,” pungkas Warsiah.

 

Sumber: acrylic gbbond